Hadapi Karhutla, Barito Utara Kerahkan 150 Personel dan 23 Mobil Tangki

By Redaksi 03 Sep 2026, 23:42:04 WIB Peristiwa
Hadapi Karhutla, Barito Utara Kerahkan 150 Personel dan 23 Mobil Tangki

Baritonews.co - Palangka Raya - Pemerintah Kabupaten Barito Utara memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang meningkat sepanjang Agustus 2026. Penguatan personel, peralatan hingga koordinasi lintas sektor terus dilakukan untuk mempercepat respons di wilayah rawan.


Bupati Barito Utara H. Shalahuddin mengatakan, hingga 31 Agustus 2026 tercatat 182 kejadian Karhutla dengan luasan lahan terbakar mencapai 124,19 hektare. Sementara hasil pemantauan menunjukkan terdapat 405 titik panas atau hotspot di wilayah Barito Utara.

Baca Lainnya :

Hal itu disampaikan Shalahuddin dalam Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah di Aula Jayang Tingang, Palangka Raya, Kamis (03/08/2026).


“Barito Utara saat ini berada dalam status Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan,” katanya.


Status tersebut berlaku selama 60 hari, mulai 1 Agustus hingga 29 September 2026. Pemkab juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 100.3.4/1144/BPBD/VIII/2026 tentang larangan pembakaran hutan dan lahan di seluruh wilayah Barito Utara.


Shalahuddin menyebut tekanan Karhutla meningkat tajam pada Agustus. Dalam satu bulan, tercatat 102 kejadian dengan luasan terbakar 50,16 hektare dan 192 hotspot.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, wilayah Teweh Selatan, Teweh Baru dan Teweh Tengah menjadi fokus operasi penanganan. Kecamatan Montallat diprioritaskan untuk pencegahan dan deteksi dini karena memiliki jumlah hotspot tertinggi.


“Kita terus memperbarui penentuan wilayah prioritas berdasarkan perkembangan kejadian Karhutla, hotspot, luasan terbakar, kondisi cuaca, dan kondisi riil di lapangan,” ujarnya.


Kesiapan personel menjadi salah satu kekuatan utama penanganan. BPBD Barito Utara mengerahkan 150 personel, terdiri atas 80 personel Pusdalops dan TRC serta 70 personel cadangan. Kekuatan tersebut didukung 45 regu Masyarakat Peduli Api (MPA) dan tiga unit Desa Tangguh Bencana (Destana).


Penanganan juga melibatkan unsur TNI/Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran, KPHP dan dunia usaha.

Dukungan peralatan mencakup 23 unit mobil tangki air, tujuh unit mobil rescue double cabin, satu mobil pick-up, kendaraan trail serta peralatan pemadaman lainnya.


Selain pemadaman, strategi yang dijalankan mencakup sosialisasi, patroli, deteksi dini, pemadaman awal, operasi TRC dan kesiapsiagaan Pusdalops selama 24 jam.

Namun, menurut Shalahuddin, kekuatan yang ada perlu diperkuat dengan pos lapangan dan sarana prasarana tambahan di wilayah prioritas.


Penguatan tersebut dinilai penting untuk memperpendek waktu tanggap, mempercepat mobilisasi personel dan peralatan, serta memperluas jangkauan penanganan ketika titik api muncul.


“Daerah pada prinsipnya siap melakukan penanganan Karhutla. Namun, penguatan pos lapangan dan koordinasi lintas sektor sangat diperlukan untuk meningkatkan kecepatan, jangkauan, serta efektivitas respons di lapangan,” tegasnya.

(Ant)