- Menjaga Nafas Pasar Tradisional, Pedagang Kain Keliling Tak Lelah Menyusuri Sungai Barito
- Sentuhan Kepedulian Wakil Rakyat, Politisi Nasdem, Hj Nety Herawati Ingatkan Pemudik Utamakan Keselamatan
- Perkenalkan Organisasi Baru, Wakil Ketua PEWARTA Barito Utara Sampaikan Harapan Sinergi Dengan Kodim 1013
- H Tajeri Kembali Salurkan Zakat untuk Warga, Sekaligus Mohon Doa Pendirian Universitas Barito Utara
- Terima Parcel Lebaran, PEWARTA Barito Utara Apresiasi Kepedulian Disdik
- Disdik Barito Utara Berbagi Parcel Ramadhan dengan Insan Pers, Pererat Sinergi Informasi Pembangunan
- Silaturahmi Ramadhan 1447 H RAPI 06 Barito Utara Gelar Buka Puasa Bersama
- Ketua AWPI Barut Ingatkan Semua Pihak Hormati Kerja Jurnalistik di Lapangan
- Pers Bukan Musuh, Mereka Pilar Keempat Demokrasi yang Tidak Boleh Dibungkam
- Wartawan Diduga Diintimidasi Saat Liput Proyek Siring Sungai Bengaris, Video Beredar di Grup Jurnalis Muara Teweh
Menjaga Nafas Pasar Tradisional, Pedagang Kain Keliling Tak Lelah Menyusuri Sungai Barito

BARITONEWS.CO - Muara Teweh – Lebih dari dua puluh tahun sudah Ny Anai menjalani kehidupan sebagai pedagang kain dan pakaian keliling di pasar-pasar tradisional sepanjang alur Sungai Barito.
Dengan ketekunan dan semangat yang tak pernah padam, ia terus menyusuri pasar demi pasar, menjemput rezeki untuk keluarganya.
Rutinitas itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Setiap hari Rabu, Ny Anai bersama suami membuka dagangan di Pasar Dermaga Muara Teweh.
Keesokan harinya, Kamis, ia melanjutkan perjalanan ke Pasar Lahei, kemudian ke Pasar Benao, Luwe, hingga Pasar Laung.
Selama hampir satu minggu penuh, ia berkeliling dari satu pasar ke pasar lainnya dengan menumpang kapal yang biasa digunakan para pedagang keliling.
Perjalanan itu bukan sekadar berdagang, tetapi juga sebuah perjuangan. Setelah berhari-hari menyusuri sungai dan pasar, Ny Anai baru kembali ke Muara Teweh pada hari Senin. Tak lama beristirahat, ia kembali memulai siklus yang sama pada hari Selasa dan hari Rabu di Pasar Dermaga kembali.
Menurut Ny Anai, masa-masa awal berdagang dahulu terasa jauh lebih menjanjikan. Penjualan kain dan pakaian cukup ramai, bahkan sering kali sebelum siklus keliling pasar berakhir dia harus order beberapa potong pakaian lagi ke Banjarmasin.
“Dulu jualan kain lumayan, pembelinya banyak. Sekarang agak sepi, apalagi sejak banyak orang belanja secara online," ujarnya.
Namun menurutnya pada hari ini, Rabu (18/03/2026 / H - 3 Lebaran) penjualan baju - baju anak lumayan banyak.
Perubahan zaman memang membawa tantangan baru bagi pedagang tradisional seperti dirinya. Bahkan pada bulan suci Ramadhan tahun ini, yang biasanya menjadi momen meningkatnya penjualan pakaian, kondisi pasar tidak seramai lima tahun lalu.
Meski demikian, Ny Anai tetap bertahan. Baginya, berdagang adalah satu-satunya mata pencaharian yang telah ia tekuni selama puluhan tahun.
“Kadang terpikir ingin berhenti, tapi ini saja pekerjaan yang saya punya,” katanya dengan senyum sederhana.
Di balik perjalanan panjangnya menyusuri sungai dan pasar-pasar tradisional, Ny Anai menyimpan harapan yang sederhana namun penuh makna.
Ia berharap pasar tradisional tetap hidup dan ramai seperti dahulu, sehingga para pedagang kecil masih bisa bertahan mencari nafkah.
Ia juga berharap generasi muda tidak melupakan keberadaan pasar tradisional yang selama ini menjadi denyut nadi ekonomi masyarakat di sepanjang Sungai Barito.
Kisah Ny Anai menjadi potret keteguhan seorang pedagang sederhana yang tak menyerah pada perubahan zaman. Dengan perahu, pasar, dan kain dagangannya, ia terus melangkah, menjaga harapan agar rezeki tetap mengalir di sepanjang aliran Sungai Barito.
(Ant)
.png)









