- H. Ardian Resmi Pimpin Diskominfosandi Barito Utara, Siap Perkuat Inovasi dan Pelayanan Publik
- LPKP Barito Utara Soroti Dugaan Pembiaran Tambang Emas Ilegal, Minta Penegakan Hukum Tanpa Tebang Pilih
- Pelantikan Pejabat Jadi Momentum Baru, Bupati Shalahuddin Tekankan Amanah dan Dedikasi
- Titip HP Untuk Rekam Sambutan Bupati Pun Ditolak Rolling Pejabat Barito Utara Tertutup
- Pemkab Barito Utara Serahkan Bantuan SIP Pintar Juara pada Peringatan Hardiknas 2026
- Semarak Hari Kartini 2026, Sekda Barito Utara Tekankan Peran Strategis PAUD
- Meriahkan Hari Kartini, Ratusan Anak PAUD Barito Utara Unjuk Bakat
- Pemkab Barut Boyong Tiga Penghargaan Sekaligus Pada Rakorda Bangga Kencana Kalteng 2026
- Kesbangpol Barito Utara Tetapkan Calon Paskibraka 2026, Empat Pelajar Lolos ke Tingkat Provinsi
- Rakor Revisi IUP Dua Perusahaan Perkebunan, Pemkab Barito Utara Tekankan Kepastian Hukum dan Kelestarian Lingkungan
Menjaga Nafas Pasar Tradisional, Pedagang Kain Keliling Tak Lelah Menyusuri Sungai Barito

BARITONEWS.CO - Muara Teweh – Lebih dari dua puluh tahun sudah Ny Anai menjalani kehidupan sebagai pedagang kain dan pakaian keliling di pasar-pasar tradisional sepanjang alur Sungai Barito.
Dengan ketekunan dan semangat yang tak pernah padam, ia terus menyusuri pasar demi pasar, menjemput rezeki untuk keluarganya.
Rutinitas itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Setiap hari Rabu, Ny Anai bersama suami membuka dagangan di Pasar Dermaga Muara Teweh.
Keesokan harinya, Kamis, ia melanjutkan perjalanan ke Pasar Lahei, kemudian ke Pasar Benao, Luwe, hingga Pasar Laung.
Selama hampir satu minggu penuh, ia berkeliling dari satu pasar ke pasar lainnya dengan menumpang kapal yang biasa digunakan para pedagang keliling.
Perjalanan itu bukan sekadar berdagang, tetapi juga sebuah perjuangan. Setelah berhari-hari menyusuri sungai dan pasar, Ny Anai baru kembali ke Muara Teweh pada hari Senin. Tak lama beristirahat, ia kembali memulai siklus yang sama pada hari Selasa dan hari Rabu di Pasar Dermaga kembali.
Menurut Ny Anai, masa-masa awal berdagang dahulu terasa jauh lebih menjanjikan. Penjualan kain dan pakaian cukup ramai, bahkan sering kali sebelum siklus keliling pasar berakhir dia harus order beberapa potong pakaian lagi ke Banjarmasin.
“Dulu jualan kain lumayan, pembelinya banyak. Sekarang agak sepi, apalagi sejak banyak orang belanja secara online," ujarnya.
Namun menurutnya pada hari ini, Rabu (18/03/2026 / H - 3 Lebaran) penjualan baju - baju anak lumayan banyak.
Perubahan zaman memang membawa tantangan baru bagi pedagang tradisional seperti dirinya. Bahkan pada bulan suci Ramadhan tahun ini, yang biasanya menjadi momen meningkatnya penjualan pakaian, kondisi pasar tidak seramai lima tahun lalu.
Meski demikian, Ny Anai tetap bertahan. Baginya, berdagang adalah satu-satunya mata pencaharian yang telah ia tekuni selama puluhan tahun.
“Kadang terpikir ingin berhenti, tapi ini saja pekerjaan yang saya punya,” katanya dengan senyum sederhana.
Di balik perjalanan panjangnya menyusuri sungai dan pasar-pasar tradisional, Ny Anai menyimpan harapan yang sederhana namun penuh makna.
Ia berharap pasar tradisional tetap hidup dan ramai seperti dahulu, sehingga para pedagang kecil masih bisa bertahan mencari nafkah.
Ia juga berharap generasi muda tidak melupakan keberadaan pasar tradisional yang selama ini menjadi denyut nadi ekonomi masyarakat di sepanjang Sungai Barito.
Kisah Ny Anai menjadi potret keteguhan seorang pedagang sederhana yang tak menyerah pada perubahan zaman. Dengan perahu, pasar, dan kain dagangannya, ia terus melangkah, menjaga harapan agar rezeki tetap mengalir di sepanjang aliran Sungai Barito.
(Ant)
.png)

.jpg)

.jpg)






